Ekonomi SMA

The Best You Can Be

Asean-CHINA FREE TRADE AREA

Posted by almaedita pada April 17, 2010

Pada tahun 2008, neraca perdagangan Indonesia dan China tiba-tiba mengalami lonjakan balik yang drastis, mengakibatkan terjadinya defisit bagi Indonesia sebesar USD 3,6 miliar. Padahal di tahun sebelumnya, Indonesia masih memiliki nilai surplus USD 1,1 miliar. Yang lebih mengejutkan adalah defisit perdagangan produk non migas Indonesia meroket dari USD 1,3 miliar di tahun 2007 menjadi USD 9,2 miliar di tahun 2008 (terjadi lonjakan sekitar 600%). Antara Januari hingga Oktober 2009, defisit serupa telah mencapai USD 3,9 miliar.
 
Terjadinya lonjakan defisit dalam perdagangan Indonesia dan China di tahun 2008 terutama disebabkan sebelum tahun 2008, data impor belum memasukkan barang-barang yang berasal dari kawasan terikat (bonded zones). Ini berarti defisit dalam perdagangan dengan China sesungguhnya telah lama terjadi sebelum tahun 2008. Bagaimanapun juga, dengan metode kalkulasi apapun, sudah pasti bahwa perdagangan Indonesia-China telah menunjukkan trend yang semakin memburuk pada tahun-tahun belakangan ini. Produk China semakin membanjiri pasar Indonesia.
 
Kini China adalah negara sumber impor pertama Indonesia, di mana angkanya sudah mencapai 17,2% dari total impor produk nonmigas. Sebaliknya, China hanya menyerap 8,7% dari total ekspor produk nonmigas Indonesia. Ini berarti produk indonesia telah melakukan penetrasi yang jauh lebih agresif di pasar kita melebihi yang lainnya.
 
Sementara itu, struktur barang-barang yang diperdagangkan cenderung menjadi asimetris. Komoditas utama mendominasi ekspor dari Indonesia ke China, sementara impor dari China ke Indonesia didominasi oleh berbagai produk manufaktur. Jika kondisi ini terus berlanjut, sektor industri manufaktur kita akan semakin terancam. Sejauh ini, produk-produk manufaktur kita sudah tertinggal dalam kompetisi dengan berbagai produk China. Kelihatannya pertahanan kita memang lemah di segala lini.
 
Tidak mengherankan jika kemudian industri manufaktur kita menderita. Tampaknya pula bahwa gejala-gejala deindustrialisasi di beberapa tahun belakangan ini hanya dibombardir dengan arus produk manufaktur China. Ketidaktahuan, sikap tidak peduli dan pengetahuan yang minim juga memperlemah posisi kita. Kita seperti mensuplai lebih banyak ‘amunisi’ kepada lawan kita dengan menyediakan berbagai komoditas utama, seperti di bidang pertambangan dan energi, sementara industri kita sendiri senantiasa berteriak minta bantuan perihal kurangnya bahan mentah dan energi.
 
Karenanya sulit membayangkan bagaimana produk kita akan berkompetisi head to head dengan China, terkecuali jika kita bisa memanfaatkan seluruh kompetensi sumber daya alam kita, terutama yang tidak dimiliki oleh China. Barangkali dalam tahap tertentu, kita juga tidak akan memperdagangkan produk bahan mentah kita lagi.
 
Dengan demikian, jelaslah bahwa industri dalam negeri yang mengolah bahan mentah harus didukung penuh. Sentra-sentra industri harus direorganisasi sehingga terintegrasi dengan sumber-sumber bahan mentah. Pengembangan teknologi juga harus difokuskan ke arah itu. Dalam waktu singkat, kita harus membuang semua kebiasaan & pola pengembangan industri yang tidak menguntungkan. Hanya mengeluh dan menyesali apa yang sudah terjadi tidak akan mengubah peruntungan kita. Sesungguhnya kita memiliki modal yang memadai untuk melakukan manuver dan strategi yang efektif.
 
Meminta penundaan pelaksanaan ASEAN-China Free Trade Agreement mungkin saja, tetapi PR yang selama ini belum kita selesaikan sudaj tidak bisa ditunda lagi. Penundaan implementasi FTA juga tidak akan menimbulkan efek marginal yang signifikan, dikarenakan bea impor ke Indonesia sudah berada di bawah 10% dalam tahun-tahun belakangan. Kalaupun penundaan FTA bisa sedikit menahan laju masuknya produk China ke Indonesia, barang-barang serupa dari negara ASEAN lainnya juga berpotensi untuk masuk.
 
Volume perdagangan antarnegara ASEAN di tahun 2008 telah mencapai angka USD 0,5 triliun. Negara-negara berkembang juga melakukan pendekatan ke ASEAN. Volume perdagangan ASEAN dengan Jepang, Uni Eropa, China dan Amerika telah mencapai hampir USD 800 milyar. Jika digabungkan dengan transaksi Korea, India, Australia dan Selandia Baru, angkanya sudah melampaui USD 1 triliun.
 
Opsi yang karenanya masuk akal untuk dijalankan adalah memadukan ekonomi kita dengan dinamika regional. Kawasan Asia selama ini telah terbukti menjadi kawasan yang paling dinamis di dunia dan menjadi pemutar roda perekonomian dunia. Indonesia bisa berkembang lebih cepat jika kita menjadi bagian dari jaringan produksi regional daripada hanya berdiam diri karena tidak percaya diri.
 
Tentu saja, langkah integrasi yang kita lakukan tidak bisa meniru Singapura atau Malaysia. Ini disebabkan kita memiliki pasar domestik yang relatif besar dengan kondisi geografis yang unik, lengkap dengan berbagai sumber daya alam yang potensial. Semua itu hanya bisa kita berdayakan secara realistis jika kita sungguh-sungguh memadukan ekonomi domestik kita.
 
Akhir kata, terlepas dari kecemasan yang terus muncul, ada sebuah pepatah China yang layak untuk kita renungkan bersama. Dikatakan bahwa “Hari terbaik pertama untuk menanam pohon adalah 20 tahun lalu. Hari terbaik kedua adalah hari ini.” Barangkali, hari terbaik pertama untuk mempersiapkan FTA ASEAN-China adalah 5 tahun lalu, dan hari terbaik berikutnya adalah hari ini.

dikutip dari pendapat : Faisal Basri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: